338645_jemaah-haji-melakukan-lontar-jumroh_663_382

KEPUTUSAN DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

No. 015 Tahun 1438 H. / 2016 M.

Tentang:

JAMA’ TAQDIM MELEMPAR JAMARAT

بسم الله الرحمن الرحيم

Dewan Hisbah Persatuan Islam Pada Sidang Lengkap, di gedung H2QM Pesantren Persis Ciganitri, Kabupaten Bandung tanggal 28-29 Rabi’ul Awwal 1438 H/ 28-29 Desember 2016 M setelah:

MENIMBANG:

  1. Fenomena kondisi adanya uzur bagi jamaah haji sehingga tidak bisa melaksanakan melempar Jamarat pada waktunya
  2. Dewan Hisbah berkewajiban untuk menjawab persoalan tersebut.

MENGINGAT:

  1. Hadis

عَنْ جَابِرٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلى الله عَليه وسَلم رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ يَوْمَ النَّحْرِ ضُحًى وَرَمَى فِي سَائِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ بَعْدَ مَا زَالَتِ الشَّمْسُ

 

Dari Jabir bahwasanya Rasulullah SAW melontar Jamrot al aqabah di hari Nahar pada waktu dluha dan beliau melontar di hari – hari tasyriq setelah tergelincir matahari (bakda zawal). (H.r. Ahmad, Musnad Ahmad, 32/219)

عن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي الْجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ عَلَى إِثْرِ كُلِّ حَصَاةٍ ثُمَّ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ فَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلًا وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ ثُمَّ يَرْمِي الْوُسْطَى ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُّ وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلًا وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُومُ طَوِيلًا ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ الْعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الْوَادِي وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُولُ: هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

Dari Ibnu Umar r.a bahwasanya ia melontar jamrot al dunya dengan tujuh kerikil, ia bertakbir setiap melemparkan batu, kemudian pergi ke tempat yang agak lenggang lalu berdiri lama menghadap kiblat ia berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya, kemudian ia melontar jamrot al wushtha, lalu pergi ke sebelah kiri berdiri lama menghadap kiblat dan berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya, ia berdiri lama, kemudian ia melontar jamrot al aqabah di tengah lembah dan ia tidak berdiri di situ kemudian pergi dan berkata demikianlah aku melihat Rasulullah SAW melaksanakannya. (H.R.  Bukhari, Sahih al-Bukhari, 6/430)

عَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ لِرِعَاءِ الْإِبِلِ فِي الْبَيْتُوتَةِ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَرْمُونَ الْغَدَ وَمِنْ بَعْدِ الْغَدِ بِيَوْمَيْنِ وَيَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ. رواه أبو داود

Dari Ashim bin Adi bahwasanya Rasulullah SAW memberI rukhsoh ( kelonggaran ) bagi pengembala unta untuk tidak mabit di Mina. Mereka melontar pada hari nahar, kemudian mereka melontar untuk hari esoknya dan esok lusa , untuk dua hari kemudian mereka melontar lagi pada hari nafar. (H.R. Abu Daud, Sunan Abi Dawud, 5/336)

عَنْ أَبِي الْبَدَّاحِ بْنِ عَدِيٍّ  عَنْ أَبِيهِ  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَخَّصَ لِلرِّعَاءِ أَنْ يَرْمُوا يَوْمًا  وَيَدَعُوا يَوْمًا.رواه أبو داود

Dari Abu al Baddah bin Adi, dari ayahnya bahwasanya Nabi SAW memberi kelonggaran ( rukhsoh ) bagi pengembala unta untuk melontar sehari dan meninggalkan sehari ( tidak melontar ). (H.R. Abu Daud, Sunan Abi Dawud, 5/337).

عَنْ أَبِي الْبَدَّاحِ بْن ِ عاَصِمِ بْنِ عَدِىٍّ عَنْ أَبِيْهِ: أَنَّهُ قَالَ: أَرْخَصَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِرِعَاءِ اِلإبِلِ فِى الْبَيْتُوْتَةِ أَنْ يَرْمُوْا يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَجْمَعُوْا رَمْىَ يَوْمَيْنِ بَعْدَ النَّحْرِ فَيَرْمُوْنَهُ فِى أَحَدِهِمَا.رواه الترمذي

Dari Abu al Baddah bin Ashim bin Adi , dari ayahnya bahwasanya ia berkata, Rasulullah Saw memberi kelonggaran ( rukhsoh ) bagi pengembala unta untuk tidak mabit di Mina, melontar pada hari nahar, kemudian menjamak melontar pada dua hari setelah hari nahar lalu mereka melontarnya pada salah satu diantara keduanya. (H.R. At Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, 4/138).

MEMPERHATIKAN:

  1. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP.Persis KH. Aceng Zakaria yang menyarankan segera diputuskan masalah hukum ‘Jama’ Taqdim Melempar Jamarat’.
  2. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.Muhammad Romli.
  3. Pemaparan dan pembahasan makalah tentang Jama’ Taqdim Melempar Jamarat’ yang disampaikan oleh KH. Uus M. Ruhiyat.
  4. Pengujian dan pandangan para peserta sidang terhadap dalil, wajh al-dilalah, metode istinbat serta kesimpulan makalah Jama’ Taqdim Melempar Jamarat’.

Atas dasar semua konsideran di atas, maka dengan bertawakal kepada Allah, Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH:

Mengukuhkan Putusan Sidang Dewan Hisbah XI Tentang Menjama’ Melontar Jamarat bagi Jamaah Haji yang Uzur yaitu

  1. Melontar Jamarat pada tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah bagi yang uzur bisa dijama’ pada salah satu harinya (taqdim atau ta’khir).
  2. Kaifiyat menjama melontar jamarat bisa dilaksanakan dengan cara menyelesaikan tiga jamarat dulu untuk tanggal 11, kemudian diulang untuk tanggal 12 nya.

Demikian keputusan Dewan Hisbah mengenai masalah tersebut dengan  makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 28 Rabi’ul Awwal 1438 H/ 28 Desember 2016 M.

JAMA’ TAQDIM MELEMPAR JAMARAT

Post navigation


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *